Minggu, 11 Mei 2008

HATI NURANI

Bekasi, 11 Mei 2008

Bismillahirrahmanirrahiimi

"Tsumma qasat quluubukum min ba'didzaaalika fahiya kaalhijaarati A'w A'syaddu qaswatan wainna minaal hijarati lamaayatafajjaru minhul anhaaaru Wa inna minhaa lamaa ya sysyaqqaqu fayakhruju minhul maaa'u' Wainna minhaa lamaa yahbithu minkhasy yatillahi Wamaallahu bighaaafilin A'mmaa ta'maluuna "
( "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah, lalu keluarlah mata air daripada nya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidak sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan" (Q.S Al-Baqarah 2:74 )
Di dalam Al-qur'an alangkah banyak ayat yang berkaitan dengan hati. Sejak surat Al-Baqarah sampai surat Al-Mulk membahas tentang hati, dan manakala hati telah membatu, maka acapkali manusia tidak lagi mau perduli dengan berbagai peringatan untuk berbuat kebajikan, apalagi mencegah kemungkaran yang terjadi. Orang -orang yang hatinya telah membatu tidak pernah mau ikut memikirkan kepentingan orang lain, kepentingan kaum seagama dan yang lebih luas dari itu adalah kepentingan Negara,Bangsa dan Tanah Air, di mana ia lahir dan dibesarkan. Sebaliknya yang ada dalam dirinya hanyalah berbagai kebohongan, menyebar fitnah, adu domba serta berbagai kemungkaran lain yang "nuansanya" hanya untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya, tanpa pernah mengenal kata Puas.
Banyak Menjangkiti
Ketidak puasan, arogansi serta merasa diri paling berkuasa, inilah yang sekarang banyak menjangkiti umat manusia, tidak terkecuali di tanah persada yang sama kita cintai ini. Namun sayangnya kata "cinta"lebih banyak hanya sebatas retorika, pemanis bibir saat kesempatan belum didapatkan, yang acap kali menyebut kecintaanya kepada tanah air serta terpacu untuk menyelamatkan dari berbagai kehancuran orang-orang yang dianggap sebagai penghianat.
Namun, ketika Allah mengujinya mendapat kesempatan pada posisi yang awalnya menjadi hujatan, maka hati nurani itupun dicampakkannya dengan begitu mudah. Terutama kejadian yang sedang " trend"saat ini adalah kolaborasi antara(oknum) pejabat dengan (oknum) wakil rakyat guna berlomba menghabiskan sisa aset Negara yang sekian lama sudah dipreteli oleh pendahulunya yang berkuasa. Kejadian ini bukan saja terjadi di tingkat pusat, namun sudah menjadi "virus"yang menyebar ke berbagai jajaran paling rendah di berbagai instansi pemerintah dan swasta. Bagaimana(oknum) itu meraup setiap kesempatan yang ada, karena terkecoh oleh manisnya "iming-iming" duniawi yang digincui penyakit "Modernisme"yang setiap saat mereka saksikan di layar kaca, berbagai media, maupun dalam kelompok masyarakat di mana mereka hidup dan berpacu dengan kesombongan.
Menjadi Konsumsi
Derasnya berbagai informasi yang disuguhkan telah menjadi konsumsi dan tujuan hidup. Sehingga sains dan teknologi tidak lagi disesuaikan dengan lingkungan, serta tidak lagi mengabdi pada kepentingan manusia, namun sebaliknya manusia dan lingkungannya telah ditundukkan oleh perkembangan sains baik dari sisi kwantitas kemauan,kekuasaan, perkembangan serta individualisme yang telah menyebabkan "kebangkrutan" di berbagai departemen, baik swasta maupun pemerintah.
Komunitas Kemauan
Pada Orde Baru, sedikit sekali orang yang punya ambisi untuk berkuasa. Hal ini terjadi karena "kran Demokrasi" tertutup rapat, sehingga setiap orang instrospeksi dengan kemampuannya sebelum berupaya mewujudkan berbagai keinginan berkuasa, karena waktu itu dominasi kekuasaan begitu kuat dan arogan membungkam benih kritik dan ketidak puasan yang tumbuh dalam masyarakat.
Bebas Bicara
Namun kini, ketika orang bebas bicara tentang HAM, tentang hukum dan harga diri, maka aplikasi dalam keseharian jauh panggang dari api. Karena mereka setiap hari berteriak tentang HAM, namun ketika usai menyampaikan mereka lebih biadab dari serigala dalam memperlakukan pihak lain yang tidak sefaham dengan kelompoknya. Disatu sisi mereka menentang berbagai kolusi, korupsi dan harga diri, akan tetapi beberapa saat kemudian mereka "meluncurkan" dirinya dengan berbagai perilaku durjana. Mereka meneriakan penegakkan hukum dan keadilan denga berbagai metode terapannya, namun pada sisi lain mereka adalah pelanggar paling keras dari pemberdayaan hukum itu sendiri. Kenyataan ini terus berlanjut dari hari kesehari, yang mana kondisinya semakin lama semakin parah. Hingga akhirnya negara tidak lagi mempunyai aturan hukum yang jelas, selain untaian kalimat yang lebih layak untuk membungkus kacang Goreng. Dan kita, terkadang "memang" tidak lebih dari bangsa kacang Goreng yang dapat dibungkus sesuai pesanan untuk kemudian dikunyah hingga hancur. Keesokkan harinya keluar dalam wujud berbeda dengan bau memuakan serta dilupakan.
Upaya Perbaikan
Betapa pun sulitnya merubah suatu kondisi masyarakat yang sudah porak- poranda, namun harus tetap ada upaya perbaikkan yang sifatnya berkesinambungan. Adapun memulainyatetntu dari diri sendiri yang menyadari tujuan akhir dari kehidupan, dan tentu saja semua itu sangat erat kaitannya dengan Agama. Karena agama yang dapat menghindarkan manusia dari berbagai kemudharatan dengan memelihara hati nurani seseorang untuk kemudian berupaya berbuat kebajikkan, sebagaimana Ibnu Arabi menuliskan ungkapan tiga Khulafatur Rasyidin yang senantiasa mengacu pada hubungan antara sebab akibat, antara yang banyak dengan yang satu, di mana mereka mengatakan,bahwa "Tidak dapat melihat suatu benda, tanpa melihat Tuhan sebelumnya..."
Dapatkah kita juga berlaku demikian, dengan selalu menyandarkan pada sebab dan akibat, agar setiap keputusan dan perilaku yang hendak dijalankan dapat bermanfaat, bukan hanya bagi diri dan keluarga tercinta, melainkan juga bagi masyarakat di mana kita tinggal dan berhutang budi, sehingga bangsa yang kita cintai ini tidak terus terpuruk dalam kehancuran yang lebih fatal dengan menyadari bahwa:"Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dariapa yang telah mereka kerjakan " ( Q.S. An-Nahl 16:96 )

(Kutipan dari Bulletin Da'wah Uswatun Khasanah No.896/Th.XVIII.)


Tidak ada komentar:

My Blog Blueluck Blogspot

Well Come To My Blog Blueluck Blogspot/Selamat Datang di Blueluck Blogspot

Daftar Posting Blog Saya

Adsense for Search

custom search

Pengikut

How about this blog ?